Senin, 30 Juni 2008

Menyongsong Gerbang Kedewasaan

Akhirnya, begitulah kata yang terucap dari bibirku tatkala kusadari bahwa sekarang aku bukan anak MTs. lagi. Sekarang aku bersiap memasuki sebuah dunia baru yang katanya sih berbeda dengan yang selama ini aku alami. Aku tidak tahu akan terjadi apa nanti, tapi aku sudah siap menyongsong hari-hari yang akan menyapaku nantinya. Di Madrasah Aliyah Darul Arqam, akan ku mulai lagi membangun masa depan. Dan aku akan menjadi lebih dewasa lagi dalam megisi hari-hariku.

Dewasa, sebenarnya bagaimana sih kedewasaan itu ? Aku yakin setiap orang memaknainya berbeda-beda. Tapi menurutku, secara sederhana dewasa berarti seseorang telah mengerti dan siap bertanggung jawab terhadap semua yang dilakukannya. Bisa saja secara jasmani seseorang sudah dewasa, tapi belum tentu secara rohani, dan begitupun sebaliknya, ada yang secara rohani sudah dewasa, tapi secara jasmani belum. Idealnya, seseorang harus memiliki kedua-duanya.

Di Indonesia, dewasa masih cukup abstrak untuk digambarkan, tidak ada batasan yang jelas tentang bagaimana seharusnya seseorang menjadi dewasa. Ada hal yang menarik mengenai kedewasaannya Nelson Mandela.Jika kita baca autobiografinya, maka kita akan tahu bahwa seorang yang telah menumbangkan rezim apartheid di Afrika ini menempuh sebuah ritual untuk menjadi dewasa. Kurang lebih ketika usianya 16 tahun, dia yang hidup di suku Xhoza wajib menempuh ritual yang membuat dia dianggap dewasa. Pelaksanaan ritual itu ialah dengan disunat atau dalam islam dikhitan. Walaupun aku tak bisa menjelaskan lebih jauh prosesi ritual tersebut, tapi setelah menjalaninya, Nelson Mandela merasa dirinya telah dewasa sehingga berusaha untuk senantiasa bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan. Ritual kedewasaan juga dikenal dalam agama Yahudi, yang dikenal dengan upacara Barmitzvah.

Aku bukan menganjurkan kita melakukan ritual-ritual seperti itu dalam menjadi dewasa, tapi aku merasa bahwa peradaban modern sekarang yang dimotori oleh barat telah memperlambat proses pendewasaan kita. Di dalam Islam contohnya, kita mengenal bahwa setelah seorang anak mencapai baligh maka dia seharusnya telah dewasa. Tidak ada yang namanya masa transisi dalam proses dewasa. Lebih jelasnya, setelah seorang anak mencapai usia baligh, maka sudah seharusnya dia diajarkan untuk menjadi dewasa. Tapi entah kenapa di abad dua puluh ini lahirlah seorang "anak haram" yang bernama masa remaja. Yang katanya di masa inilah kita mencari jati diri, atau emosi kita tidak stabil, sehingga itu menjadi alasan bahwa remaja itu memang seharusnya liar atau nakal. Menurut seourang pengamat remaja Alwi Alatas bahwa istilah remaja memang tidak ditemukan pada abad-abad pertengahan maupun awal. Tapi istilah remaja mulai ada sejak awal abad 20-an. Dan hal itu dimanfaatkan oleh orang-orang berpaham materialis untuk menyebarkan fahamnya yang sasaran empuknya adalah para remaja. Kita diajarkan pakaian-pakaian yang jauh dari standar kesopanan, kita juga diajarkan budaya-budaya barat yang tidak sepenuhnya positif, sehingga banyak diantara manusia-manusia yang kehilangan waktunya yang berharga hanya karena terjebak dalam kesenangan semu pada masa remaja. Mungkin jika kalian ingin lebih tahu mengenai masalah ini, silahkan baca buku "Remaja Gaul gak Mesti Ngawur" karya Alwi Alatas.

Yah, sekarang aku masih menikmati liburan nih, doain ya semoga aku bisa mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat.

Jumat, 20 Juni 2008

Mungkin Hanya Ini

Mungkin hanya ini, sebuah kata yang terlintas di benakku tatkala bermuhasabah. Saat ku dapati hidupku yang sebenarnya, di sebuah penjara suci. Ku ketahui filosofi hidup disini. Bagaimana hakikat kebahagiaan dan kesedihan, mencoba bersyukur dan bersabar, di sini. Maafkan aku wahai yang ada di seberang sana, tatkala berulang kali prestasi gagal ku ukir. Entah karena baru seperti ini nilai diriku. Maafkan aku kepada semua orang yang mengharapkan aku menjadi lebih, tapi inilah aku apa adanya.

Untuk sekarang...
Mungkin hanya ini.

Untuk selanjutnya...

Senin, 16 Juni 2008

FANTASTIC TOUR 2008: An Unforgetable Memory

Selasa malam, 10 Juni 2008 menjadi sebuah malam yang sangat bersejarah bagiku dan teman-teman. Malam itu, kami memulai sebuah babak baru bagi perjalanan angkatan kami. Acara yang sejak lama kami rencanakan akhirnya sudah di depan mata, dan kami sudah tidak sabar menunggunya. Diiringi dengan perubahan rona wajah teman-temanku yang menjadi lebih cerah pada malam itu, kami memulainya dengan mengadakan pembukaan disertai pengarahan oleh Bapak Agus Yusuf dan Pak Ruhan. Kemudian kamipun mempersiapkan diri serta perbekalan untuk menyongsong Dunia Fantasi nanti. Akhirnya bis yang ditunggu-tunggu datang juga, dan kurang lebih pukul setengah sebelas malam akhirnya perjalanan panjang pun dimulai.

Suara didalam bus menjadi semakin gaduh tatkala Aghe dan kawan-kawan mulai bernyanyi, diiringi hentakan drum Fikri yang memecah keheningan malam itu. Di dalam bus pun kami menyempatkan diri untuk menonton film Evan Almighty yang cukup menghibur. Malam itu pun kami larut dalam kegembiraan yang terpancar raut muka kami di sepanjang perjalanan.

Saat fajar mulai menyingsing, kamipun sampai di sebuah tempat yang membuat hati kami tak henti-hentinya memuji asma Allah SWT. Mesjid Kubah Emas Dian Al Mahri Depok memang membuat mata kami terbelalak. Arsitektur dan keindahan mesjid itu memang membuat seakan kami berada di negeri lain. Mesjid yang dibangun oleh Dian Al Mahri tersebut memang sering dikunjungi oleh orang-orang yang ingin melihat keindahannya. Sehingga aku berpikir kalau mesjid ini lebih baik dijadikan museum daripada mesjid. Kami melaksanakan sholat subuh disana dan mandi serta bersiap-siap untuk menuju Jakarta.

Mesin bus kembali dijalankan, suasana menjadi gaduh kembali tatkala Dulloh dan kawan-kawan bernyanyi kembali, dan kegembiraan pun kembali menyelimuti hati kami semua. D’Masiv, Changcuters, Close Head dan Avenged, menjadi band yang hits nya dinyanyikan oleh kami. Dan kami pun larut dalam canda tawa seiring dengan kencangnya bus menuju tempat tujuan.

Akhirnya, tibalah kami di tempat tujuan, di tengah udara yang hampir-hampir membakar kulit kami, dan teriknya sinar matahari kami pun mulai melakukan petualangan. Tapi sebelumnya untuk mengisi energi dalam tubuh kami, kami makan dulu di restoran Laut Biru yang memang menyajikan makanan yang cukup memuaskan dan mengenyangkan kami. Setelah itu, sambil menunggu Dufan dibuka, kami menikmati pemandangan Pantai Ancol yang walaupun terlihat sedikit keruh. Teman-temanku pun ada yang berwisata ke tengah laut dengan perahu yang disewakan oleh para nelayan untuk mencari nafkah.

Tatkala gerbang Dunia Fantasi dibuka, kami pun mulai memasukinya dengan penuh semangat dan harapan. Kemudian kami yang berkelompok-kelompok mulai menikmati wahana-wahana yang memicu hormone adrenalin serta menghasilkan hormone endorphin dalam tubuh kami. Halilintar, Arum jeram, Tornado, Extreme Log, Perang Bintang, Kicir-kicir,Kora-kora, dan banyak wahana lainnya kami jelajahi. Walaupun masih ada teman-temanku yang merasa “masih punya jantung” sehingga enggan untuk menaikinya. Tapi tak apalah, memang Allah memberi kemampuan kepada setiap manusia itu berbeda-beda, dan hal itu merupakan rahmat Allah bagi kita semua. Walaupun kami sudah menjelajahi wahana-wahana Dufan, tapi rasa lelah seolah enggan menghampiri kami. Yang kami rasakan hanya sebuah euphoria atas keberhasilan kami merealisasikan mimpi menjadi nyata. Pak Oleh, pak Ruhan, Pak Yadi, Pak Agus Barkah, Pak Opik, Bu Ai, Bu Eka dan Bu Ummi pun gembira sekaligus bangga melihat anak-anak didik mereka yang masih nakal-nakal ini bisa mrealisasikan cita-cita mereka. Momen-momen bahagia tersebut berhasil terdokumentasikan dengan baik berkat kerja juru foto angkatan yang menenteng kamera kemana pun mereka pergi.Dan setelah puas menikmati wahana-wahana Dufan, kami menyaksikan pertunjukan Police Academy yang membuat kami kagum walau ada sebagian adegan yang memang tidak pantas dilihat oleh seorang santri. Dan hari pun menjelang petang, tak terasa beberapa jam lagi Fantastic Tour akan segera berakhir.

Huh, akhirnya lelah pun menghampiri kami juga, tapi alhamdulillah kami disambut kembali oleh hidangan yang menunggu disantap oleh kami di restoran Simpang Raya. Kemudian setelah menunaikan Solat Maghrib, kami kembali menaiki bus untuk menuju Mesjid At Ta’awun Puncak. Ditengah perjalanan pun euphoria kami ternyata belum lenyap. Kami bernyanyi bersama-sama dengan satu orang yang bernyanyi di depan. Aku, Arrozaq, Faisal, Dulloh, Irham, Adus, pun menjadi orang-orang terpilih untuk bernyanyi di depan teman-teman. Tapi ada satu teman kami yang (sorry ya Den!) memang benar-benar jual mahal, yaitu Dendy.Entah kenapa padahal rambutnya yang baru di rebonding cukup terlihat sebagai sebagai vokalis band lho. Tapi dibujuk dengan rayuan apapun tetap tidak menggoyahkan ketetapan hatinya untuk tidak bernyanyi. Ya sudah lah, daripada membuang-buang waktu lebih baik teman-temanku yang lain yang bernyanyi.Saat pemenangnya diumumkan, aku tak menyangka ternyata akulah pemenangnya bersama arrazaq. Memang bukan suara sih yang dinilai, tapi berdasarkan polling teman-teman, dan mereka banyak yang memilihku, sehingga akulah pemenangnya.

Malam itu, tibalah saat-saat penutupan acara di Masjid At Ta’awun Puncak. Kami berkumpul di halaman masjid untuk acara pembagian hadiah sekaligus penutupan acara. Walaupun masih banyak teman-temanku yang tertidur di bus dan tidak mengikuti acara tersebut, tapi acara tetap berlangsung dengan baik. Tidak semua dari kami merasakan kebahagiaan malam itu, ada seorang teman kami yang terkena musibah yaitu Shasha. Dia kehilangan tas serta barang-barang yang ada di dalam tas itu. Dia terus bersedih sepanjang malam itu. Yah, mungkin iman dia lagi naik kali, jadi Allah Swt. memberikan ujianNya malam itu. Kami semua juga turut membantu mencari tasnya di masjid itu. Semoga dia ikhlas menerimanya.

Acara demi acara telah kami lewati, dan bus pun sudah menunggu kami untuk kembali ke Ma’had tercinta ini. Sungguh perjalanan pulang serasa beberapa menit saja, karena mayoritas dari kami tertidur dalam perjalanan. Bahkan kami di kelasku, hanya IFT saja yang terbangun saat membeli oleh-oleh untuk keluarganya di Cianjur. Duh, memang sudah pada cape kali ya!. Saat terbangun, ku sudah melihat lagi pemandangan Garut malam hari, dan tinggal beberapa ratus meter lagi dari Ma’had. Akhirnya, Fantastic Tour pun usai, dengan menyisakan kenangan yang indah dihati kami. Tepat pukul 3 subuh, kami masuki lagi gerbang Ma’had yang sunyi karena para santri belum pada bangun. “Sal, sukses!” kata Pak Yadi kepada ketua pelaksana Faisal. Memang diluar dugaan, tapi inilah hasil perjuangan kami. Walaupun dalam perencanaan acara ini kami banyak melakukan blunder-blunder dalam mengorganisasi acara, tapi ini cukup adil bukan. Allah Swt. memberikan kepada kami khusnul khatimah bukan karena kesalahan kami yang banyak, tapi karena tekad kami yang tak pernah padam. Dan ingat bahwa kesalahan-kesalahan yang kami perbuat merupakan kado dari Allah Swt. yang menunjukan kepada kami kekurangan-kekurangan sehingga kami dapat memperbaikinya kelak.

Memang Fantastic Tour menjadi sebuah memori yang tak terlupakan bagi kami. Karena disanalah kami merasakan hebatnya kebersamaan. Walaupun setiap hari kami selalu bersama-sama baik di asrama, di kelas maupun di masjid, tapi Fantastic Tour menjadi sebuah memori dimana kami bersama-sama dalam kegembiraan. Alhamdulillahi Rabbil Aalamiin

Senin, 09 Juni 2008

Perangkap Tikus

Sepasang suami dan istri petani pulang kerumah setelah berbelanja.
Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikur memperhatikan dengan seksama sambil menggumam "hmmm...makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??"
Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus.
Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak " Ada Perangkap Tikus di rumah....di rumah sekarang ada perangkap tikus...."
Ia mendatangi ayam dan berteriak " ada perangkat tikus"
Sang Ayam berkata " Tuan Tikus..., Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku"
Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak.
Sang Kambing pun berkata " Aku turut ber simpati...tapi tidak ada yang bisa aku lakukan"
Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. " Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali"
Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sang ular berkata "
Ahhh...Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku"
Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.
Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan.
Sang suami harus membawa istrinya kerumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam.
Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya. (kita semua tau, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam) Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya.
Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya.
Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya mneninggal dunia.
Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat.
Dari kejauhan...Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.

SO...SUATU HARI..KETIKA ANDA MENDENGAR SESEORANG DALAM KESULITAN DAN MENGIRA ITU BUKAN URUSAN ANDA... PIKIRKANLAH
SEKALI LAGI

Filsafat Cinta

Suatu hari, Plato bertanya pada gurunya, "Apa itu cinta? Bagaimana saya menemukannya? Gurunya menjawab, "Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta"

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?" Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja,dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)". Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwa ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya"

Gurunya kemudian menjawab " Jadi ya itulah cinta"

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya,"Apa itu perkawinan?Bagaimana saya bisa menemukannya?"

Gurunya pun menjawab "Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan"

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

Gurunya bertanya, "Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?" Plato pun menjawab, "sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya"

Gurunya pun kemudian menjawab, "Dan ya itulah perkawinan"

Jalur Kereta Api

Sekelompok anak kecil sedang bermain di dekat dua
jalur kereta api. Jalur yang pertama adalah jalur aktif (masih sering
dilewati KA), sementara jalur kedua sudah tidak aktif.

Hanya seorang anak yang bermain di jalur yang tidak aktif (tidak pernah lagi dilewati KA),
sementara lainnya bermain di jalur KA yang masih aktif.

Tiba-tiba terlihat ada kereta api yang mendekat dengan kecepatan tinggi.

Kebetulan Anda berada di depan panel persimpangan yang mengatur arah KA tersebut.

Apakah Anda akan memindahkan arah KA tersebut ke jalur yang sudah tidak aktif dan menyelamatkan sebagian besar anak kecil yang sedang bermain.

Namun hal ini berarti Anda mengorbankan seorang anak yang sedang bermain di jalur KA yang tidak aktif. Atau Anda akan membiarkan kereta tersebut tetap berada di jalur yang seharusnya?

Mari berhenti sejenak dan berpikir keputusan apa yang sebaiknya kita ambil

Sebagian besar orang akan memilih untuk memindahkan arah kereta dan hanya mengorbankan jiwa seorang anak.

Anda mungkin memiliki pilihan yang sama karena dengan menyelamatkan sebagian besar anak dan hanya kehilangan seorang anak adalah sebuah keputusan yang rasional dan dapat disyahkan baik secara moral maupun emosional.

Namun sadarkah Anda bahwa anak yang memilih untuk
bermain di jalur KA yang sudah tidak aktif, berada di pihak yang benar
karena telah memilih untuk bermain di tempat yang aman? Disamping itu,
dia harus dikorbankan justru karena kecerobohan teman-temannya yang
bermain di tempat berbahaya.

Dilema semacam ini terjadi di sekitar kita setiap hari. Di kantor, di masyarakat, di dunia politik dan terutama dalam kehidupan demokrasi, pihak yang menjadi objek penderita harus dikorbankan demi kepentingan pemegang kekuasaan. Tidak peduli betapa bodoh dan cerobohnya pihak yang berkuasa tersebut.

Nyawa seorang anak yang memilih untuk tidak bermain bersama teman-temannya di jalur KA yang berbahaya telah dikesampingkan. Dan bahkan mungkin tidak kita tidak akan menyesalkan kejadian tersebut.

Seorang teman yang men-forward cerita ini berpendapat bahwa dia tidak akan mengubah arah laju kereta karena dia percaya anak-anak yang bermain di jalur KA yang masih aktif sangat sadar bahwa jalur tersebut masih aktif.

Akibatnya mereka akan segera lari ketika mendengar suara kereta mendekat.

Jika arah laju kereta diubah ke jalur yang tidak aktif maka seorang anak yang sedang bermain di jalur tersebut pasti akan tewas karena dia tidak pernah berpikir bahwa kereta akan menuju jalur tersebut.

Disamping itu, alasan sebuah jalur KA dinonaktifkan kemungkinan karena jalur tersebut
sudah tidak aman. Bila arah laju kereta diubah ke jalur yang tidak aktif maka kita telah membahayakan nyawa seluruh penumpang di dalam kereta.

Dan mungkin langkah yang telah ditempuh untuk menyelamatkan sekumpulan anak
dengan mengorbankan seorang anak, akan mengorbankan lagi ratusan nyawa penumpang di kereta tersebut.

Kita harus sadar bahwa HIDUP penuh dengan keputusan sulit yang harus dibuat. Dan mungkin kita tidak akan menyadari bahwa sebuah keputusan yang cepat tidak selalu menjadi keputusan yang benar.

"Ingatlah bahwa sesuatu yang benar tidak selalu populer dan sesuatu yang populer tidak selalu benar".

Jadilah Pelita

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita.

Orang buta itu terbahak berkata: "Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok."

Dengan lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu."

Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta.

Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!"

Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.

Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta.

Kali ini si buta bertambah marah, "Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!"

Pejalan itu menukas, "Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!"

Si buta tertegun..

Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, "Oh, maaf, sayalah yang 'buta', saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta."

Si buta tersipu menjawab, "Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya."

Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.

Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita.

Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, "Maaf, apakah pelita saya padam?"

Penabraknya menjawab, "Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama."

Senyap sejenak.

secara berbarengan mereka bertanya, "Apakah Anda orang buta?"

Secara serempak pun mereka menjawab, "Iya.," sembari meledak dalam tawa.

Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.

Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta.

Timbul pikiran dalam benak orang ini, "Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka."

Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).

Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan "pulang", ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.

Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk "membuta" walaupun mereka bisa melihat.

Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.

Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.

Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.

Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.

Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.

Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan. Jika telinga tanpa penghalang, hasilnya adalah pendengaran. Hidung yang tanpa penghalang membuahkan penciuman. Fikiran yang tanpa penghalang hasilnya adalah kebijaksanaan.
_________________

Hati Seluas Dunia

Dahulu kala, hiduplah seorang guru yang terkenal bijaksana. Pada suatu pagi, datanglah seorang pemuda dengan langkah lunglai dan rambut masai. Pemuda itu sepertinya tengah dirundung masalah. Tanpa membuang waktu, dia mengungkapkan keresahannya: impiannya gagal, karier, cinta, dan hidupnya tak pernah berakhir bahagia.

Sang Guru mendengarkannya dengan teliti dan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Dia taburkan garam itu ke dalam gelas, lalu dia aduk dengan sendok.

"Coba minum ini, dan katakan bagaimana rasanya?" pinta Sang Guru.

"Asin dan pahit, pahit sekali," jawab pemuda itu, sembari meludah ke tanah.

Sang Guru hanya tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya berjalan ke tepi telaga di hutan dekat kediamannya. Kedua orang itu berjalan beriringan dalam kediaman. Sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Sang Guru lalu menaburkan segenggam garam tadi ke dalam telaga. Dengan sebilah kayu, diaduknya air telaga, membuat gelombang dan riak kecil.
Setelah air telaga tenang, ia pun berkata, "Coba, ambil air dari telagaini, dan minumlah."

Saat tamu itu selesai meneguk air telaga, Sang Guru bertanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar," sahut pemuda itu.

"Apakah kamu masih merasakan garam di dalam air itu?" tanya Sang Guru.

"Tidak," jawab si anak muda.

Sang Guru menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk bersimpuh di tepi telaga.

"Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan seumpama segenggam garam. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.Tetapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah atau tempat yang kita pakai. Kepahitan itu, selalu berasal dari bagaimana cara kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan atau kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang boleh kamu lakukan: lapangkanlah dadamu untuk menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu. Luaskan cara pandang terhadap kehidupan. Kamu akan banyak belajar dari keluasan itu."

"Hatimu anakku, adalah wadah itu. Batinmu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah hatimu seluas telaga yang mampu meredam setiap kepahitan. Hati yang seluas dunia!"

Keduanya beranjak pulang. Sang Guru masih menyimpan "segenggam garam"
untuk orang-orang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan hati.

Doa Seorang Anak Kecil

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab, memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya. Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip diatasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 pembalap kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya. Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan tang bertangkup memanjatkan doa.

Lalu, semenit kemudian, ia berkata, "Ya, aku siap!".

Dorr. Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing.

"Ayo.. ayo.. cepat.. cepat.. maju.. maju...", begitu teriak mereka.

Ahha.. sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish-pun telah terlambai. Dan, Mark lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. "Terima kasih."

Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya.

"Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?".

Mark terdiam.

"Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan" kata Mark. Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongku mengalahkan orang lain. "Aku, hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah."

Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.

Teman, anak-anak, tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita semua. Mark, tidaklah bermohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian. Mark, tak memohon Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Tuhan mengabulkan semua harapannya. Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang lainnya. Namun, Mark, bermohon pada Tuhan, agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga. Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta Tuhan untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa pada Tuhan, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata. Padahal, bukankah yang kita butuh adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya, dan panduan-Nya? Kita, sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat. Kita sering lupa, dan kita sering merasa pesimis dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui? Saya yakin, Tuhan memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah dan mudah menyerah. Sesungguhnya, Tuhan sedang menguji setiap hamba-Nya yang beriman. Jadi, teman, berdoalah agar kita selalu tegar dalam setiap ujian. Berdoalah agar kita selalu dalam lindungan-Nya saat menghadapi itu semua. Amin

Cerita-cerita Pembangun Jiwa

Kawan-kawan, segala sesuatu di dunia ini tidaklah diciptakan Allah SWT. melainkan pasti ada manfaatnya. Begitu pula hal-hal yan terjadi di sekitar kita, semuanya mengandung hikmah. Tergantung kita apakah dapat mengambil hikmahnya atau tidak, dan berbahagialah bagi setiap orang yang mampu mengambil hikmah dibalik setiap peristiwa.

Ujian akhirnya selesai, setelah otakku dijejali pelajaran-pelajaran yang membuatku membanting tulang untuk belajar, akhirnya sirna seiring waktu yang menjemputku. Tatkala aku kembali ke rumah untuk sedikit merefresh pikiranku, aku menemukan mutiara-mutiara berkilauan yang tersimpan di laptop ayahku. Dan kini aku akan membaginya kepada yang membaca blogku.