Kamis, 21 Agustus 2008

Untaian-untaian Tasawuf dalam "Terima Kasih Cinta"

Tersadar didalam sepiku
Setelah jauh melangkah
Cahaya kasihmu menuntunku
Kembali dalam dekap tanganmu

Terima kasih cinta untuk segalanya
Kau berikan lagi kesempatan itu
Tak akan terulang lagi
Semuaaa kesalahanku yang pernah menyakitimu

Tanpamu tiada berarti
Tak mampu lagi berdiri
Cahaya kasihmu menuntunku
Kembali dalam dekapan tanganmu


Ada sebuah hal yang menarik dalam lagu terima kasih cinta yang mungkin luput dari pandangan kita. Kita mungkin hanya menganggap lagu ini hanya seperti lagu cinta biasa yang isinya begitu-begitu saja. Tapi aku punya penafsiran lain dengan lagu ini, coba deh perhatikan baik-baik teks lagu ini. Sekilas memang tidak ada yang aneh dengan lagu ini, karena memang masih menggambarkan romantika percintaan anak muda biasa. Tapi aku mencoba melihat lagu ini dari sisi yang lain.

Aku melihat terdapat unsur-unsur tasawuf yang sangat kental dalam lagu ini. Aku mencoba untuk menukar kata "cinta" dalam lagu ini dengan makna "Sang Pemilik dan Pencipta Cinta". Maka aku mendapat sebuah syair yang seperti dibuat oleh para sufi untuk memuji keagungan Allah Swt, serta mengharapkan pengampunan Allah Swt.

Coba lihat deh dari mulai bait pertama, syairnya menunjukan tentang seseorang yang sedang tersesat dan salah menempuh jalan, tapi kemudian Sang Kekasih menuntun dan memberi petunjuk untuk kembali ke pangkuanNya. Dari sini kita mengetahui salah satu sifat Sang Kekasih yang ingin diungkapkan oleh bait pertama, yakni sifat "Rahmat dan Cahaya bagi Seluruh Alam".

Nah, sekarang kita menginjak ke bait kedua yang juga merupakan reff dari lagu ini. Dalam bait ini jelas terlihat bahwa setelah mendapat petunjuk dari Sang Kekasih, seorang hamba yang tersesat pun berterima kasih atas segala hal yang telah dilakukan oleh Sang Kekasih. Dia juga berjanji untuk berbuat kesalahan yang sama kepada Sang Kekasih. Dari syair yang terdapat pada bait kedua ini, maka kita dapat mengambil dua sifat yang harus dimiliki seorang sufi dalam bertaqarub kepada Sang Kekasih, yakni Syukur dan Taubat.

Di bait yang terakhir, seorang hamba menyadari bahwa dirinya tak berarti apa-apa tanpa kehadiran Sang Kekasih di sisinya. Dia juga tidak bisa melakukan apa-apa kalau tidak dalam petunjuk Sang Kekasih. Maka syair di bait terakhir ini menjelaskan kepada kita tentang satu sifat lagi, yakni sifat Tawakal kepada Sang Kekasih. Yakni menyerahkan sepenuhnya dirir hamba atas kehendak dan perlindungan Sang Kekasih.

Jadi secara umum, lagu ini menggambarkan kecintaan seorang hamba terhadap Kekasihnya. Yang kalau dalam ilmu Tasawuf disebut Mahabbah. Dan kalau kita hayati dan resapi kandungan dari lagu ini, maka seolah-olah kita akan tenggelam dalam lautan Tasawuf.

Yah seperti inilah lintasan pikiran yang ada dalam otakku. Terserah lah kepada anda semua apakah setuju atau menentang terhadap pendapatku ini. Yang pasti aku hanya mencurahkan hasil kerja neuron-neuron yang ada di otak ku. Aku juga sama sekali tidak menggunakan hermeneutika atau metode-metode interpretasi lain dalam memahami lagu ini. Yang ku lakukan hanya menggunakan bakat alami ku untuk berpikir. Terus buat Kang Afghan, aku gak bermaksud buat mempromosikan lagu ini kok, tapi kalau nanti lagu ini jadi lebih terkenal, gak apa-apa ya!

Jadi intinya, cobalah melihat segala sesuatu dari sisi yang lain!

Kamis, 07 Agustus 2008

Ini Soal Hidup: Pilih Enak atau Nikmat?

Ok lah, persoalan tentang hidup memang bukan pertanyaan yang mudah dan sederhana untuk dijawab. Tapi kali ini, aku akan sedikit menyajikan tentang sesuatu yang mungkin sering menjadi bahan perbincangan oleh kita semua.

Gini, aku yakin bahwa sifat dasar manusia adalah menginginkan adanya rasa enak dan nikmat dalam dirinya. Sifat tersebut kalau kata para filsuf disebut hedonisme. Nah, apa sih bedanya antara rasa enak dengan nikmat? Mungkin kalau dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dua kata tersebut merupakan sinonim. Tapi aku mendapatkan sebuah pengertian baru tatkala mendengar nasihat dari Pak Edi pada pelajaran fisika dan Pak Ahi pada pelajaran khitobah.

Pak Edi seperti biasa pada pertemuan pertama tidak memberikan kami materi yang mungkin dapat membuat otak kami berkeringat. Tapi dia berbagi cerita bersama kami serta nasihat yang membuat hati kami cukup tersentuh. Entah kenapa, walaupun dia orang fisika, tapi kalau lagi ngasih nasehat dengan menggunakan dalil al-Quran dan fisika dia udah kayak ustad aja. Dan kemarin-kemarin, dia memberikan taushiah tentang hal ini, kita pilih hidup enak atau nikmat? Lalu dia mulai bercerita, bahwa ada saja orang yang sudah dianugerahi keenakan yang banyak. Rumah mewah, mobil banyak, istri cantik,jabatan tinggi, dll. Tapi ketika dia tidur seolah-olah tidak tenang, dia terus saja memikirkan hartanya, bagaimana ya kalau ada yang mencuri? Bagaimana ya kalau ada yang hilang? Bagaimana ya aku mendapat uang lagi besok? dll. Ya begitulah kehidupan orang tersebut. Dia sih emang hidup enak, karena segalanya udah punya, tapi dia hidup tidak nikmat, karena hartanya itu membuat dia gelisah.

Lain lagi dengan cerita Pak Ahi, seorang guru yang pernah nyantri di gontor dan jago banget dalam bahasa Arab dan pidato. Dia juga unik lho, walaupun kalau lagi marah bisa membuat badan kami panas dingin, tapi kalau lagi bicara di mimbar, ada saja omongan yang membuat para santri tertawa terbahak-bahak. Yah begitulah De-A. Kalau dia bercerita tentang hal yang sebaliknya dengan yang diceritakan Pak Edi. Dia becerita tentang seorang petani yang walaupun hidupnya kurang enak karena hartanya sedikit, tapi dia bisa menikmati hidup yang dijalaninya. Setelah bekerja, petani bisa makan dengan lahap, lalu tidur dengan nyenyak , seolah-olah tanpa masalah yang berarti dalam hidupnya. Nah, petani ini, walaupun hidupnya kurang enak, tapi dia hidup nikmat.

Saat aku mendengar dua cerita tadi, ya aku bisa mengambil sebuah gagasan bahwa kenikmatan hidup itu tidak tergantung pada banyaknya harta yang kita miliki, tapi bagaimana kita mensyukurinya. Dan aku lihat, orang yang diceritakan Pak Edi tadi merupakan para koruptor yang menyengsarakan rakyat. Yah, mereka telah salah pilih, mereka lebih memilih keenakan daripada kenikmatan.Sedangkan petani adalah orang yang lebih memilih kenikmatan daripada keenakan. Karena Allah Swt. menjanjikan kenikmatan yang besar tatkala kita bersyukur terhadap nikmat yang telah Allah Swt. yang diberikan kepada kita.

Kalau aku sih lebih memilih untuk bisa hidup enak dan nikmat. Amien…

Yuk Kita Isra Mi'raj!

Tepat setiap tanggal 27 Rajab tahun Hijriah, umat islam Indonesia menikmati hari libur karena memperingati Isra Mi'rajnya Nabi Muhammad SAW. Mengenai Isra Mi'rajnya sendiri, sebagian besar umat Islam Indonesia sudah faham dan mengerti artinya. Isra artinya perjalanan yang dilakukan orang pada malam hari, dalam peristiwa ini, pada malam hari Nabi Muhammad SAW pergi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa.. Makannya kenapa keturunan nabi Ya'qub disebut Bani Israil? Konon kabarnya Nabi Ya'qub itu suka berperjalanan di malam hari, jadi aja keturunannya disebut Bani Israil. Sedangkan Mi'raj kalau yang aku baca di buku Tarekh adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha. Akhirnya dua peristiwa agung tersebut disebut Isra Mi'raj. Mengenai dalilnya, gak usah ditanyain lagi, di dalam al-Quran peristiwa ini sudah diabadikan dalam salah satu nama Surat al-Quran, dan di dalamnya dijelaskan keagungan Allah Swt. yang telah memperjalanankan Nabi Muhammad pada malam hari.

Ada sebuah dampak Isra Mi'raj yang dapat kita rasakan hingga sekarang, yaitu perintah solat yang merupakan hasil konkrit dari Isra Mi'raj Rasulullah SAW. Rasulullah SAW menerima perintah tersebut tatkala beliau berhadapan langsung dengan Sang Maha Pencipta. Sehingga ketika kembali ke dunia, beliau langsung menyebarkan dan menjadikan sholat sebagai salah satu pondasi paling urgen dalam Islam. Sampai-sampai beliau pernah bersabda bahwa sholat itu tiangnya agama. Dan yang aku pikirkan sekarang adalah, apakah kita sudah bisa menangkap esensi terpenting dari Isra Mi'raj, atau kita masih menganggap bahwa memperingati Isra Mi'raj hanya sebatas tradisi yang diwariskan secara turun temurun?

Kemarin aku sms-an dengan salah seorang temanku, kebetulan kami berdua membahas tentang makna Isra Mi'raj. Saat aku mengajukan gagasan bahwa sebenarnya kita juga bisa Isra Mi'raj lho, dia aneh dan merasa hal itu tidak mungkin. Jelas saja seperti itu, karena aku belum menjelaskan yang sebenarnya. Gini, kita tahu bahwa Isra Mi'raj adalah naiknya Rasulullah Saw. ke tempat teringgi dari kubangan dunia yang hina. Dia bertemu dengan Tuhan nya dan meraih kedudukan yang mulia di sisi-Nya. Setelah itu dia kembali lagi ke dunia untuk mendakwahkan ajaran-ajarannya. Sekarang, coba analogikan dengan ibadah solat yang selama ini kita lakukan. Ketika kita solat dengan khusyuk, kita tidak lagi ada di masjid, di Indonesia, di Dunia atau Galaksi Bimasakti. Tapi kita seolah-olah berada di Sidratul Muntaha dan sedang bercakap-cakap dengan Allah Swt melalui bacaan dan gerakan solat. Dan setelah salam, kita kembali lagi ke dunia untuk kembali hidup bermasyarakat dengan mendakwahkan ajaran-ajaran islam dalam kehidupan kita. Jadi shalat khusyuk merupakan gambaran terhadap Isra Mi'raj yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Malah saya dengar dari kawan saya Ginan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda bahwa Sholat adalah alat Isra Mi'raj umatku. Yah, Wallahu A'lam, yang penting, mari kita tangkap esensi dari peristiwa terdaftar sebagai salah satu nominasi dari Mujizat-mukjizat Rasulullah Saw. yang sangat luar biasa.

Jumat, 01 Agustus 2008

Mana yang Lebih Dulu, Fiqih, atau Ushul Fiqih?

Ada sebuah pengalaman yang menarik tatkala mengikuti pelajaran Ushul Fiqh bersama Pak Ayi Yunus. Walaupun dia datang agak terlambat, tapi aku dan teman-teman mendapat sesuatu yang hebat hari itu. Walaupun mungkin menurut kalian hal itu biasa-biasa aja, tapi tidak buat kami. Karena ilmu yang kami dapat merupakan harta yang tak ternilai dengan apapun juga. Setelah masuk dan mengabsen kami semua, Pak Ayi langsung memberi kami sebuah pertanyaan, tentang manakah yang lebih dulu, Fiqih atau Ushul Fiqih. Lalu kami semua dibagi menjadi 4 kelompok yang sesuai dengan jajaran kami masing-masing, Dia menyuruh kami berdiskusi dan mancari jawaban disertai dengan alas an dan bukti mengenai pertanyaan yang beliau ajukan tadi.

Mulailah kami berdiskusi, suasana setengah riuh menghiasi kelas kami, kelas X B atau kelas I MA yang memang sudah menjadi dinamika keseharian kelas kami. Pak Ayi memberitahukan bahwa waktu kami 10 menit untuk menyelesaikan taka-teki tersebut. Saat impuls-impuls listrik dalam neuron-neuron di otak kami mulai aktif, mengantarkan kami semua kepada sebuah kesimpulan. Dengan menggunakan logika berfikir induktif dan deduktif serta dengan men ggunakan premise-premise yang menghasilkan silogisme yang sesuai, kami semua mempunyai sebuah kesimpulan disertai dengan argument-argumen yang menguatkan konklusinya.

Waktu untuk berdiskusi pun telah habis, dan kelompok-kelompok di kelas kami bersiap untuk saling sharing pemikiran mengenai pertanyaan yang diajukan Pak Ayi tadi. Kemudian Pak Ayi meminta yang sudah siap diantara kami untuk maju kedepan dan mempresentasikan hasil diskusi. Lalu ternyata yang maju adalah Abay, salah seorang temanku yang juga pintar memainkan gitar mengacungkan tangannya dengan semangat pertanda sudah siap tuk tampil di depan kami santri-santri kelas X B.

Dimulai dengan ucapan salam yang lengkap yang katanya bakal dapat pahala 30 dari Allah, Abay memulai presentasinya. Dan aku dapat mengerti bahwa dia berkesimpulan Fiqih lebih dulu daripada Ushul Fiqih. Dia beralasan bahwa waktu dulu Nabi dan dan Sahabat-sahabatnya sudah mempraktekan seperti sholat, zakat, dan yang lain sebagainya yang notabenenya adalah bagian dari ilmu fiqih. Sedangkan kaidah-kaidah Ushul Fiqih baru ditemukan beberapa abad setaelah wafatnya Rasul oleh para ulama Islam. Setelah Abay, Sahl pun maju kedepan yang ternyata pendapatnya bertolak belakang dengan kelompoknya Abay. Dia menganggap bahwa Ushul Fiqih lebih dulu ada daripada Fiqih. Hal ini dikarenakan bahwa sebagaimana tertera dalam buku bahwa Ushul fiqih itu bagaikan akar atau dasar dari sebuah pohon. Maka dari itu, gak mungkin ada fiqih kalau gak ada Ushul Fiqihnya dulu. Setelah Sahl, giliran Irham yang maju ke depan untuk mengutarakan pendapatnya. Dan mungkin Fiqih sedang menjadi bintang pada saat itu, sehingga Irham pun membuat kesimpulan bahwa Fiqih lah yang lebih dahulu muncul daripada Ushul Fiqih. Hal itu dikarenakan bahwa Ushul fiqih itu hanya untuk menyempurnakan ilmu fiqih yang sudah ada sebelumnya. Akhirnya, tibalah giliranku untuk maju ke depan dan mengutarakan hasil diskusiku dan teman-teman mengenai permasalahan ini. Dan ternyata skor menjadi 3-1, aku juga mengambil kesimpulan bahwa ilmu fiqih lebih dahulu muncul daripada Ushul Fiqih. Aku menganalogikan dangan bahasa Arab dan ilmu Nahwu. Kita tahu bahwa bahasa Arab telah ada dari zaman dahulu sebagai alat komunikasi. Tapi kita tahu bahwa ilmu nahwu muncul sekitar beberapa abad yang lalu. Dan hal itupun berlaku juga terhadap fiqih dan ushul fiqih, kataku.

Setelah presentasi tersebut, pak Ayi mempersilahkan kita semua untuk saling beradu argument dan berdiskusi untuk mencapai jawaban yang sebenarnya dari permasalahan ini. Kasihan, kelompoknya Sahl harus berjuang melawan 3 kelompok lainnya yang menyimpulkan bahwa fiqh lebih dulu daripada Ushul Fiqh. Lalu Pak Ayi sebagai moderator membantu menjelaskan maksud kelompok Sahl yang menganalogikan Ushul Fiqih sebagai akar dari sebuah pohon yang batanganya itu adalah fiqih. Sehingga tidak mungkin akan tumbuh batang kalau akarnya pun tidak ada. Tapi tanpa disangka-sangka Faisal dari kelompoknya Abay memberikan argument untuk menyanggah argument kelompoknya Sahl. Dia beranalogi dengan sebuah pohon singkong, yang ditanam dulu batangnya baru tumbuh akarnya. Begitupun permasalahan yang kita bahas sekarang katanya, jadi kalau kita ibaratkan fiqih sebagai batang dan ushul fiqih sebagai akar, logis kalau fiqih dulu baru ushul fiqih yang timbul kemudian. Suasana menjadi semakin menarik tatkala teman-temanku dari kelompok lain juga ikut berkomentar dengan argumen-argumen andalan mereka. Kelompok Sahl terlihat keok saat itu, bayangin aja, satu lawan tiga lho!

Dan akhirnya, Pak Ayi pun menghentikan diskusi yang kami semua lakukan lalu menjelaskan jawaban yang sebenarnya dari pertanyaan tadi. Dia menjelaskan bahwa secara amali atau pengamalan, ilmu fiqih dan ushul fiqih itu mencul secara bersamaan. Gini deh, waktu dulu Rasulullah SAW pernah melarang umatnya untuk memakan daging babi menurut perintah Allah SWT. Pada saat itu, timbullah hukum bahwa daging babi itu haram, dan itu adalah fiqih. Dan Rasulullah pun tanpa sadar menggunakan kaidah ushul fiqih bahwa yang membahayakan kesehatan itu bisa diharamkan. Tapi zaman Rasul belum ada ilmu fiqih dan ushul fiqih, sehingga Rasul menggunakan ilmu-ilmu tersebut tanpa sadar.Baru pada abad-abad selanjutnya para ulama lah yang mengadakan ilmu fiqih dan ushul fiqih. Baru secara ilmu memang fiqih yang lebih dahulu ada, karena ushul fiqih itu sendiri gunanya untuk membuat ilmu fiqih lebih dinamis dan jelas. Pak Ayi juga memberitahu kami tentang filsafat ilmu yang belum kami mengerti. Dia bilang bahwa syarat sesuatu dikatakan sebagai suatu ilmu itu harus memenuhi 3 hal yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Udah ah aku gak akan memahsa itu lebih dalam, nanti aja kalau udah kuliah.

Yah, mungkin tulisan ini adalah seperseribu pengalaman ku di kelas yang memang belum ku tulis. Entahlah, sekarang aku sedang membiasakan diri tuk menulis.